Prau cougar

Udara malam di wonosobo benar menggigit radin dan jaket rajutnya tidak tahan dengan dingin di genggaman tanggannya. motor ojek itu melaju kencang meniup juga kening dan perasaaannya yang kacau. Sungguh mustinya tadi dia naik motor saja meski itu beresiko. Namun apa daya dia bukan orang pengendara, seorang yang biasa lalu lalang melibas jalanan roda dua.

Kalau dipikir semua tidak menanggung salah benar pada kenyataan. Kebenaran berarti berjalannya takdir dan bicara ketetapan ketika berlaku. Mau bagaimana lagi. Setiap orang tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Sebelum semua itu berlaku maka perlu ditilik kembali apa yang terjadi sebelumnya. Siang itu sudah bulat bahwa Radin dari Jogja akan menurut mengikuti lajur bis antar kota. Dari Jombor (terminal) sesampainya di tidar (terminal Magelang) akan naik bus hingga terminal Wonosobo. selanjutnya ada opsi naik engkel (mini bus ukuran 1/4). sebatas teori biar pengalaman mengucap.

maka sesampai di wonosobo kala itu sudah larut lebih isya. beberapa orang penumpang turun. Karena bus dari terminal Wonosobo tidak naik Dieng tapi lanjut ke Purwokerto.

“kalau malam bis kecil itu masih ada mas?” radin bertanya mencari informasi.

“sampean mau kemana?” Pria itu bertanya balik pada intinya.

“saya mau ke dieng, naik prau mas,” jawabku.

“mending ikut naik taksi sama saya, sembilan puluh ribu,” pria itu menambahi “saya ada kenalan sopir taksi sekitar nanti bisa kita nego bareng bareng”

“Ikut saya jalan, nanti kita cegat lewat alun alun” dinginnya malam itu membuat semua orang kelihatan lesu.

Radin tidak percaya benar dengan omongan itu namun dia mengikuti. Sampai alun-alun mereka berempat menunggu taksi. Radin mengamati tiga orang rekanan itu. Seperti orang mudik. Membawa kardus dan koper. Setelah dialog singkat Radin berkesimpulan mereka perantau pulang ke Wonosobo dari luar Jawa. Dia tidak terlalu tertarik untuk mendalami kisah mereka walau untuk sekedar basa basi. Malam dan kelelahan setelah perjalanan bukan waktu yang baik untuk berdialog. Apalagi biacara soal ongkos.

Bagi Radin kepercayaan itu penting dan cuma informasi akurat yang bisa dipegang. Dan bagi sembilan puluh ribu informasi ini kurang jelas apa tujuannya. Dia sungkan untuk bertanya. Apa tiap orang akan bayar sembilan puluh atau dibagi empat dengan berapa premi lanjutan misal ongkos jadi seratus jadi tiap orang bayar dua lima.

dalam kepanikan itu radin tidak menyerah untuk menunggu bus kecil. baginya sebelum mengerti atau mengalaminya sendiri ketidaktahuan atau informasi yang kurang akurat adalah dosa. Dia berpikir remeh temeh soal ongkos dan memilih menunggu bus itu. Dia memisahkan diri dari rombongan beralasan dia kelaparan dan mau beli rokok dan menyampaikan kalau nanti dia cari angkutan sendiri.

Di warung pinggir jalan itu dia bergumam alangkah buruknya tidak tahu jalan. Jalan dimana dia diturunkan dari terminal Wonosobo ke pertigaan sebelum alun-alun tidak terlalu jauh. Tadi setelah melewati rumah warga potongan jalan itu terhubung ke alun alun. Omongan pria tadi benar namun kebenaran itu bagiku tidak terhubung dengan cara berpikirku. Sekali lagi ngeyel soal ongkos. Berpikir untuk memotong ongkos.

Dia tidak enak hati sebenarnya meninggalkan rombongan itu. ini sebenarnya pertolongan. keras kepala tidak baik bagi orang yang tidak mengerti. Alih alih memikirkan itu di alun alun kota itu keramaian sudah mulai lenyap. ini bukan keramaian kota. tidak banyak yang keluar malam ini. cuma beberapa orang menunggu jemputan. Rupanya ketika dia bertanya sembari makan diwarung tadi bis kecil sudah pulang sebelum isya. Jadi sudah tidak ada bis malam itu. Mengingat bahwa ini bukan kota besar meski ini juga jalur wisata.

hembusan hangat dalam rongga nafas membuat udara menguap melalui bibir sebatang rokok menyala untuk menemani. kehangatan merasuk di paru paru namun dinginnya tetap menyentuh kepala. dingin itu tidak mendinginkan kepala tapi menyentuh kulit sehingga keringat dingin yang muncul. kepanikan kepalang basah.

malam ini yang pasti tidak ada angkutan kecuali ojek ojek yang duduk di kursi panjang. dan tidak ada pilihan lain. seorang diantaranya melirik kanan kiri jalan melihat lalulintas dan mendekati radin ketika jalan tidak ada kendaraan lewat.

“mau kemana mas” pertanyaan standar ojek.

lantas bagaimana cara yang baik untuk membalas ucapan standar ini berkaitan dengan ongkos dan semacamnya bila tanpa pengalam.

“kujawab mau ke basecamp,” jawaban singkat.

“Mari saya antarkan”

Dan perjalanan berlanjut dengan ojek. Aku ikut saja permainan sembari jalan sambil bicara memberi arahan.

Bagaimana soal ongkos ojek malam hari dari alun alun ke basecamp. kira kira limapuluh ribu tanpa perlawanan.

Begini ceritanya. Bicara untuk mengelabuhi ongkos aku terlanjur bilang pernah ke basecamp Prau padahal tidak. Dan kesempatan itu tidak disia-siakan oleh ojeknya dengan membawaku ke tempat yang berbeda. Ya lokasinya juga bernama basecamp, entah itu benar atau tidak. unsur ketidak sengajaan atau buka aku tidak tahu. sebuah gapura jaga perumahan. sial orang ini main main. aku bilang prau malah aku diajak main ke perumahan. hapeku drop

benar ini mas lokasinya.

aku merogoh hp di celana. dan menghubungi angin. no response sampai beberapa saat. baru setelah belasan menit menunggu angin membalas melalui sms.

“ini masih dijalan nanti dulu telponnya kalo sudah sampai basecamp nanti aku kebawah tak jemput,” balasnya.

wah ini berarti dia belom sampe tujuan. jadi langkah apa selanjutnya. antara hp ngedrop dan kehilangan kontak dengan angin atau memilih untuk melanjutkan ngojek sampai ke basecamp. aku pilih lanjut dengan ojek dan mengurangi resiko batere habis. bila baterai habis maka resiko kehilangan arah lebih besar. No gps, minim informasi, baterai ngedrop. Udah larut malam. Pendakian tidak akan maksimal tanpa istirahat sejenak di basecamp.

Maka aku tulis pesan singkat ke angin. “Aku ngojek” Tentunya ini akan jadi misteri buat angin “sampai luar jalan masuk basecamp” kurasa ini cukup

Udara malam di wonosobo benar menggigit radin dan jaket rajutnya tidak tahan dengan dingin di genggaman tanggannya. motor ojek itu melaju kencang, angin meniup kening dan perasaaannya yang gelisah. perjalanan ini musti berlanjut bagaimanapun caranya.

Pak ojek tidak tahu dimana lokasi basecamp berada aku juga tidak. kita mengikuti jalur mendaki sampai pinggir lereng itu Walhasil kita berhenti di pinggir jalan. Menunggu balasan angin.

Sebenarnya untuk mencapai hal ini Radin lebih banyak menelpon angin. Dan mengganggu perjalanannya. menunggu sambil menyulut kretek, bapaknya kutawari namun dia merogoh saku sendiri menyulut sebatang. Hp bergetar angin menelpon.

“sudah sampai mana.”

“ini dijalan berhenti sambil cari arah”

“udah mandeg disitu aja aku jemput”

“ok. aku dipinggir jalan.”

hp sudah sampai batasnya.

pak ojek bicara, “Mas ini kalo sampean nambah sepuluh nanti saya antar sampean sampai basecamp. Kita cari alamatnya sama sama.”

Karena angin sudah dalam perjalanan maka ku tolak.

“Mungkin sampai sini saja pak, teman saya mau jemput. Tidak enak sama dia”

Kemudian kubayar ongkosnya. Untuk menunggu angin. Pak ojek pamit karena sudah larut.

Opsi ojek sampai basecamp sebenernya bagus juga. Karena memang mungkin sudah dekat.

Kutunggu sampai sebatang habis lalu angin muncul. sambil menggerutu soal ongkos perjalanan dilanjutkan.

Malam itu benar dingin. Namun bagi macan gunung dingin malam bukan jadi halang melewati kabut ketika mereka berburu. Cougar malam itu melintasi jalan berliku sampai basecamp Prau dengan baik tanpa kendala menembus kabut dimana para dewa dewa terlelap malam itu.

didedikasikan untuk cougar, sehat selalu di Jogja

Pemandangan Dari Dua Gunung

cakrawala adalah langit luas namun sempit dimataku

karena keterbatasan sepasang mata

sekeping perak cermin perunggu tidak utuh

maka aku coba meraba dengar bisik bisik dari batu besar yang gelap gulita yang menampung gelap itu

badai adalah cerminan – bahwa tidak akan lama lagi semua reda dan pintu pintu tertutup terbuka

di puncak di singgasana sang maharaja permadani akan diulurkan namun siapa tahu sampai, lekas

Semua dengan kepatuhan waktu Antara dua warna

dan lebih lama lagi memandang gugusan sawah irigasi

airnya mengalir tak kunjung reda demi mengobati rindu

dimana air yang membanjiri samudera berasal kalau bukan dari sepuncak mata air

setetes dengan doa pengharapan

Semua akan bertemu di jalan lapang

Angin akan menyapa ilalang

Dengan tidak memandang puncak ketika berjalan

sebuah sonet pesanan

tak ada kemalangan yang menyuguhkan diri muncul di mimbar-mimbar realita.
atau merangsak menembus kerumunan para pencinta.
ia menyempil menjadi buih-buih kecil, berkomuni di setiap sekat ekspektasi, bersemayam di antara jeda pengharapan.
: semua sudah begitu ringkih, pun masih saja punya tugas untuk berduka

sementara itu, seseorang duduk di dalam batok kepala, yang bukan saya.
ia merapalkan mantra. ketukan demi ketukan, kresendo:”orang bisa dihancurkan, namun tak bisa dikalahkan”.

nanar gempita.

ditulis oleh Izzuddin Ammar

Untuk sungai yang mengalir dan laut yang berirama. segala pertemuan dan perpisahan berasal dari keduanya.

untuk merindukan dansa pada malam-malam penatku
Mungkin aku merindukan untukmu air, gunung, dan lautan.
Manakah pembanding yang lebih indah dari kecantikannya

aku merindukan petikan rona pada rasi-rasi bintang
tujuh sampai sebelas malam
sejak aku benar benar mencintaimu

Lalu aku merindukanmu saat pagi menjelang dan
bayangan semakin pudar

dalam delusi-waktuku tidak pernah beranjak sebenarnya

semua singkat,
seperti aku tidak benar-benar memiliki,
tapi sekejapnya memandang aku bisa mengerti

Orang orang bertelanjang dada
Saat ombak berdentuman pasir-pasir kecil mencari sesuatu yang hilang
kilauan dan pesona dari wajah seseorang

Belasungkawa;
atas nama senja dan rindu, puisi dikebiri
sebayang sakit hati sekaratnya ambisi
sekedar kata-kata pucat pasi
rimanya merupa basa basi
daya hidupnya direvisi.

Metamorfosa;
sudahlah, menepilah puisi
diksimu tak bercahaya lagi
beranilah menyepi
sambangilah anak-anak sunyi, hak asasi
mereka sedang tak berdaya dikekang ilusi.

Ed – Merbabu 2019

Tanganmu

Izzudin Ammar gambar pada ilustrasi visual digital

Tidak lagi wajah, atau bibir atau juga almari
Tidak pada rambut merah, bahkan cermin,
yang hangat
Berbingkai.
Bahkan suatu foto tersimpan di samping bangku tidak ku baca

Pada beton beku
malam tidak terlihat asing, namun bayangan masih merapat
ke dinding pada jendela ketika mereka menyadari

Setiap merah yang dicari
dari bibirmu, aku ketahui sebagai aku tidak ketahui. Bukan angin kapan saja bisa pergi.

Apa semua upama bukit,
dan aku tidak merasa kabut secepat itu turun pada badai; seperti mahkota di puncak menara; seperti pohon rindang memercikan api

Karena begitu asing,
tangan tidak pernah menerima
Ketika air mengalir dan mengulur waktu paripurna.

Peluru tidak diketik, mereka diarahkan untuk merobek daging memecah tulang

aku tidak menghakimi,

semua memang adanya – keadilan kutemukan sebongkah-sebongkah, kulempar ke angkasa agar mereka mau percaya

Bahkan butuh waktu agar anak panah turun membelah langit

Kita tidak bersedekah pada hujan, dan semestinya hujan turun – semestinya

Suara gemericik hujan dan kayu terbakar terdengar samar
sama sama memercik, sama sama mengulur detak detik tidak beraturan – nyala hidup kapan waktu bisa mati

Akan sama terdengar akan sama bercerita, tidak tahu masa bercinta bisa saja habis untuk merayu, merayu ragu, mengibaskan bendera perang yang berdarah, pedang dari kayu taming kulit kayu. Kapan saja

Dan sama-lah perbedaan itu tanpa mengalami, menyesap daun daun kering. Para serangga yang muncul di musim hujan mendekat ke perapian dan mati ditelingamu menyesap permohonan maaf.

Dan untuk kulit kuku yang mengelupas tidak berdarah tidak menyimpan sakit harusnya tidak mengerti tersembunyi.

Kapan bergeming ketika warna merah menempel di pintu.

Dan bagaimana mereka bicara rasa sakitnya terkelupas

Semua akan terlepas, dari adanya. Menahan dingin malam hari. Pada racun kesederhanaan yang diimpi-impikan. Setiap aku berpikir dan mendengar

Ditenda ditempat semula kesepian seperti kemewahan, tak sanggup aku menerima

Merbabu, 2018